Amarah Anak

Sekolah Kristen IPEKA: Anak Sedang MarahJumat, 14 Desember 2012 menjadi hari yang menyedihkan bagi Sekolah Dasar Sandy Hook, Connecticut, Amerika Serikat. Sebanyak 20 siswa SD berusia 5 – 10 tahun tewas tertembak. Pelaku juga menembak beberapa guru, seorang Kepala Sekolah, dan seorang Psikolog Sekolah.

Sebelum melakukan penyerangan di sekolah, pelaku terlebih dulu menembak ibunya di rumah. Ibunya adalah pengajar di SD Sandy Hook tersebut. Pelaku bernama Adam Lanza, berusia 20 tahun. Adam Lanza dikenal sebagai anak yang pendiam dan jenius.

Semua orangtua menginginkan anaknya menjadi anak yang tertib dan mudah diatur. Tapi, kesalahan yang umum terjadi adalah, orangtua merasa aman ketika anak mereka menjadi anak yang pendiam, tidak pernah protes, dan sangat patuh. Padahal, seperti kasus penembakan di atas, beberapa kasus kriminal lain juga kerap kali dilakukan oleh anak yang pendiam.

Penting untuk orang tua menyadari bahwa sikap pendiam anak tidak selalu merupakan indikator positif. Anak memang harus dididik menjadi tertib dan disiplin. Namun, sikap pendiam bukan berarti bahwa anak telah sungguh-sungguh mengerti akan arti kedisiplinan. Beberapa anak yang tampak pendiam justru menyimpan banyak kemarahan dalam dirinya. Anak tersebut tidak tahu bagaimana cara menunjukkan kemarahannya. Akhirnya, ketika anak tidak mampu lagi memendam kemarahannya, ia menunjukkannya dengan cara yang sangat buruk.

Untuk menghindari hal tersebut, pertama-tama orang tua harus menyadari bahwa marah merupakan emosi normal yang dimiliki oleh anak. Kemudian, ketimbang melarang anak untuk marah, akan jauh lebih baik jika orang tua mengajarkan kepada anak mengenai cara yang tepat untuk menyampaikan amarahnya. Terdapat beberapa hal yang dapat orang tua lakukan untuk membantu anak agar terbiasa mengekspresikan kemarahan secara tepat:

1. Peka terhadap perasaan anak

Orangtua harus dapat peka terhadap emosi yang dialami anak. Untuk dapat peka terhadap emosi anak, dibutuhkan hubungan yang dekat antara orangtua dengan anak. Sediakan waktu untuk banyak berbicara dengan anak mengenai berbagai hal yang ia alami, sekaligus tanyakan perasaannya tentang kejadian tersebut. Dengan demikian, orangtua dapat lebih paham, hal-hal seperti apa yang dapat memunculkan emosi negatif anak.

2. Bantu anak untuk mengenali emosinya

Sebagian anak merasa bingung mengenai emosi yang ia rasakan. Sebagai akibatnya, mereka bisa saja bersikap negatif demi menghilangkan rasa tidak nyaman di dalam dirinya. Ketika orang tua berbicara dengan anak mengenai pengalaman mereka, orang tua dapat sekaligus membantu anak mengenali emosi dirinya sendiri. Untuk membantu, orangtua dapat menggunakan gambar wajah dengan berbagai emosi. Diskusikan dengan anak, wajah mana yang menunjukkan emosi senang, sedih, marah, dll.

3. Berkomunikasi dengan anak mengenai penyebab kemarahan mereka

Setelah mengenal kemarahannya, ajak anak untuk mengetahui sumber dari kemarahan mereka. Apakah hal tersebut memang layak untuk membuat anak marah, atau sebenarnya justru mereka yang melakukan kesalahan? Dalam hal ini, penting bagi orang tua untuk berkomunikasi secara demokratis dan tidak menghakimi. Kalau memang ternyata kesalahan terletak pada anak, sampaikan hal tersebut dengan tegas dan baik, bukan dengan cara menyudutkan anak.

4. Menawarkan alternatif cara yang tepat dalam menyampaikan kemarahan

Terkadang anak memang tidak tahu cara mengungkapkan amarahnya secara tepat. Ada baiknya orangtua membantu memberikan ide. Seiring dengan pertambahan usia anak, didik mereka untuk lebih mandiri dalam melakukan hal ini.

5. Menjadi teladan yang baik bagi anak

Yang terpenting adalah, orangtua harus menjadi teladan yang baik bagi anak. Melalui sikap orangtua, anak dapat mengadopsi berbagai hal, baik itu sikap yang benar, maupun sikap yang keliru. Maka itu, semoga orangtua menjadi contoh yang baik bagi anak.

 

Nirmala Putri, S. Psi.
IPEKA Counseling Center

Artikel Lainnya

Sekolah Kristen IPEKA bekerjasama dengan PGTI dan Sentra Vaksinasi GKY…

Sentra Vaksinasi Covid-19 Khusus Untuk Murid SMAK IPEKA Dalam rangka mendukung program pemerintah untuk mempercepat…

Selengkapnya
Retret Online Guru Karyawan Sekolah Kristen IPEKA

Puji Tuhan, Sekolah Kristen IPEKA bersyukur dapat mengadakan retret online bagi seluruh Guru dan Karyawan…

Selengkapnya
Our Virtual Field Trip

Situasi pandemi memang memaksa kita untuk melakukan proses belajar mengajar secara daring, namun hal itu…

Selengkapnya
Selamat kepada Angkatan 2021 – Wisuda Sekolah Kristen IPEKA

Selamat angkatan 2021! Tahun lalu telah menjadi tantangan bagi kita semua, karena pandemi virus corona.…

Selengkapnya